UJIAN KECANTIKAN DAN KEKAYAAN DUNIA : KETIKA NIKMAT MENJADI COBAAN

UJIAN KECANTIKAN DAN KEKAYAAN DUNIA : KETIKA NIKMAT MENJADI COBAAN

Oleh: Tengku Iskandar, M.Pd
Duta Literasi Pena Da’i Nusantara Provinsi Sumatera Barat

Pendahuluan

Kecantikan adalah anugerah, kekayaan merupakan nikmat, dan kemewahan menjadi bagian dari kehidupan yang diinginkan banyak orang. Namun, di balik semua itu terdapat ujian yang tidak ringan. Tidak sedikit manusia yang mampu bersabar ketika hidup dalam kekurangan, tetapi berubah ketika mendapatkan kekayaan, pujian, dan kedudukan. Ada pula yang menggunakan kecantikan untuk memperoleh pengakuan manusia, tetapi melupakan nilai-nilai akhlak dan ketakwaan.

Islam tidak melarang manusia menikmati keindahan dan mencari kekayaan melalui jalan yang halal. Islam justru mengajarkan agar setiap nikmat disyukuri dan digunakan untuk kebaikan. Persoalannya bukan terletak pada kecantikan atau kekayaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia menyikapi dan menggunakannya.

Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia merupakan tempat ujian. Apa yang dimiliki manusia tidak hanya menjadi sarana menikmati kehidupan, tetapi juga menjadi amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

  1. Kehidupan Dunia Adalah Ujian

Allah SWT berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya:

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

(QS. Al-Mulk [67]: 2).

Ayat ini menjelaskan bahwa kehidupan bukan sekadar kesempatan mengumpulkan harta, menikmati kecantikan, atau mengejar kedudukan. Kehidupan merupakan kesempatan untuk membuktikan kualitas amal manusia.

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji manusia, siapa yang paling baik amalnya. Ukuran yang ditekankan ayat ini adalah kualitas amal, bukan sekadar banyaknya kekayaan atau tingginya kedudukan.¹

Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an juga membahas ayat tersebut dalam konteks ujian kehidupan dan kematian. Manusia akan memperlihatkan bagaimana ia menggunakan kesempatan hidup yang diberikan Allah.²

Dengan demikian, kecantikan, kekayaan, dan kemewahan perlu ditempatkan dalam kerangka ibadah dan tanggung jawab moral.

  1. Kecantikan: Anugerah yang Menguji Hati

Kecantikan merupakan bagian dari keindahan yang diciptakan Allah. Wajah yang menarik, tubuh yang sehat, dan penampilan yang terawat dapat menjadi nikmat apabila disyukuri dan dijaga dengan cara yang benar.

Namun, kecantikan juga dapat menjadi ujian ketika seseorang menjadikannya alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain, merendahkan mereka yang penampilannya berbeda, atau menggantungkan harga dirinya sepenuhnya pada pujian manusia.

Dalam masyarakat modern, penampilan sering menjadi ukuran penerimaan sosial. Media sosial memperkuat kecenderungan membandingkan wajah, bentuk tubuh, pakaian, dan gaya hidup. Akibatnya, sebagian orang merasa dirinya tidak berharga hanya karena tidak memenuhi standar kecantikan yang sedang populer.

Padahal, kemuliaan manusia tidak ditentukan semata-mata oleh penampilan fisik.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat tersebut menegaskan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah adalah ketakwaan, bukan kecantikan, keturunan, kekayaan, atau status sosial.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim, no. 2564).³

Hadis ini tidak berarti bahwa merawat penampilan atau memiliki harta merupakan sesuatu yang tercela. Pesannya adalah bahwa rupa dan kekayaan bukan ukuran utama kemuliaan seseorang di hadapan Allah.

Kecantikan yang disertai kesantunan, kejujuran, rasa malu yang terpuji, dan kepedulian kepada sesama akan menjadi bagian dari keindahan akhlak. Sebaliknya, penampilan yang menarik tidak dapat menggantikan hati yang dipenuhi kesombongan dan perilaku yang merugikan orang lain.

  1. Kekayaan: Antara Nikmat dan Fitnah

Kekayaan dapat membantu manusia memenuhi kebutuhan keluarga, memperoleh pendidikan, membangun usaha, membantu fakir miskin, dan mendukung kegiatan sosial. Akan tetapi, kekayaan juga dapat menjadi sumber kesombongan apabila seseorang menganggap semua yang dimilikinya semata-mata hasil kemampuan pribadi.

Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya:

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

(QS. At-Taghabun [64]: 15).

Dalam ayat ini, kata fitnah bermakna ujian atau cobaan. Harta dan anak bukan sesuatu yang harus dibenci, tetapi keduanya dapat menguji ketaatan, tanggung jawab, dan kemampuan manusia dalam menentukan prioritas hidup.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa harta dan anak dapat menjadi ujian yang mengalihkan manusia dari kewajiban kepada Allah apabila seseorang tidak mampu mengelolanya dengan benar.⁴

Al-Qurthubi juga membahas bagaimana harta dan anak dapat menguji manusia. Karena itu, seorang Muslim perlu menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan keluarga dan menaati perintah Allah.⁵

Orang kaya diuji melalui cara memperoleh dan membelanjakan hartanya. Apakah ia mencari rezeki dengan jujur? Apakah ia menunaikan zakat ketika telah memenuhi syarat? Apakah ia memenuhi kebutuhan keluarga dan membantu orang yang membutuhkan?

Kekayaan yang disertai rasa syukur dapat menjadi jalan menuju kebaikan. Sebaliknya, kekayaan yang melahirkan kesombongan dan kezaliman dapat menjadi beban pertanggungjawaban.

  1. Jangan Tertipu oleh Kemewahan Dunia

Allah SWT berfirman:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya:

“Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

(QS. Ali ‘Imran [3]: 185).

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Kekayaan dapat berkurang, kecantikan dapat berubah seiring usia, dan kedudukan dapat berakhir.

Dalam penafsiran QS. Ali ‘Imran [3]: 185, Ibnu Katsir mengingatkan bahwa kenikmatan dunia tidak seharusnya membuat manusia melupakan kehidupan akhirat.⁶ Pesan ini bukan ajakan meninggalkan pekerjaan atau mengabaikan kebutuhan dunia, melainkan peringatan agar dunia tidak menguasai hati.

Seseorang boleh memiliki rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, pakaian yang pantas, dan usaha yang berkembang. Namun, ia tetap harus menjaga kejujuran, kesederhanaan yang proporsional, dan kepedulian kepada sesama.

Masalah muncul ketika kemewahan menjadi tujuan utama kehidupan. Seseorang terus mengejar barang baru demi pujian, merasa rendah diri karena tidak mampu menyamai gaya hidup orang lain, atau berutang hanya untuk mempertahankan citra sosial.

Pada saat itu, harta yang seharusnya membantu kehidupan justru menjadi sumber tekanan.

Karena itu, seorang Muslim perlu membedakan antara kebutuhan, kenyamanan yang wajar, dan keinginan yang tidak pernah selesai.

  1. Kisah Tiga Orang yang Diuji oleh Allah

Pelajaran tentang ujian nikmat dapat ditemukan dalam hadis sahih mengenai tiga orang dari kalangan Bani Israil: seorang penderita penyakit kulit, seorang yang botak, dan seorang yang buta.

Allah memberikan kesembuhan dan kekayaan kepada ketiganya. Setelah beberapa waktu, malaikat datang kembali dalam rupa seorang musafir yang membutuhkan pertolongan.

Dua orang pertama mengingkari keadaan mereka pada masa lalu dan menolak membantu. Mereka tidak mengakui nikmat yang telah diterima.

Orang ketiga justru mengakui bahwa dahulu dirinya hidup dalam kekurangan dan kehilangan penglihatan. Ia menyadari bahwa semua perubahan yang dialaminya merupakan karunia Allah. Karena itu, ia bersedia memberikan bantuan.

Pada akhir kisah, malaikat menyampaikan bahwa Allah meridai orang ketiga dan murka terhadap dua orang lainnya.

Kisah ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari, hadis no. 3464, dan menunjukkan bahwa nikmat dapat menjadi ujian bagi hati manusia.⁷

Pelajarannya sangat jelas. Orang yang dahulu miskin tidak boleh menghina orang miskin setelah menjadi kaya. Orang yang dahulu membutuhkan pertolongan tidak seharusnya melupakan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.

Demikian pula, orang yang memiliki kecantikan hendaknya tidak merendahkan orang lain karena penampilannya. Semua nikmat harus melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

  1. Syukur: Jalan Mengelola Nikmat

Allah SWT berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

(QS. Ibrahim [14]: 7, bagian ayat).

Syukur mencakup pengakuan hati bahwa nikmat berasal dari Allah, pujian melalui lisan, dan penggunaan nikmat dalam perbuatan yang baik.

Dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan hubungan antara syukur dan tambahan karunia Allah.⁸ Al-Qurthubi juga membahas perintah bersyukur dan ancaman terhadap sikap mengingkari nikmat dalam penafsiran ayat tersebut.⁹

Kecantikan dapat disyukuri dengan menjaga kesehatan, kesopanan, dan perilaku. Kekayaan dapat disyukuri dengan bekerja secara halal, menunaikan kewajiban, dan membantu sesama. Ilmu dapat disyukuri dengan mengamalkannya, sedangkan jabatan dapat disyukuri dengan menjalankan amanah secara adil.

Syukur tidak mengharuskan seseorang membagikan seluruh hartanya atau mengabaikan kebutuhan keluarga. Syukur berarti menempatkan setiap nikmat secara benar sesuai tuntunan agama dan kemampuan yang dimiliki.

  1. Mengukur Kemuliaan dengan Ketakwaan

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidak menilai manusia hanya berdasarkan rupa dan harta, melainkan hati dan amalnya. Pesan ini memberikan perspektif penting dalam masyarakat yang sering mengukur keberhasilan berdasarkan penampilan, penghasilan, dan status sosial.

Seseorang yang sederhana tetapi jujur, bertakwa, dan bermanfaat bagi sesama dapat memiliki kemuliaan yang besar di sisi Allah. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kekayaan berlimpah tidak otomatis menjadi mulia apabila kekayaannya diperoleh melalui cara yang haram atau digunakan untuk merugikan orang lain.

Dalam kehidupan keluarga, prinsip ini mengajarkan orang tua agar tidak hanya mendidik anak untuk menjadi cantik, tampan, kaya, atau terkenal. Anak juga perlu dibimbing agar memiliki iman, akhlak, tanggung jawab, dan kemampuan menghargai orang lain.

Pendidikan semacam ini penting agar generasi muda tidak terjebak dalam budaya pamer dan perlombaan status sosial.

Penutup

Kecantikan, kekayaan, dan kemewahan dunia bukanlah sesuatu yang otomatis tercela. Semuanya dapat menjadi nikmat apabila diperoleh dan digunakan sesuai tuntunan Allah. Namun, semuanya juga dapat menjadi ujian ketika melahirkan kesombongan, kelalaian, dan perilaku yang merugikan orang lain.

Kecantikan akan berubah, kekayaan dapat berkurang, dan kemewahan tidak akan dibawa ke liang kubur. Yang akan dipertanggungjawabkan adalah iman, amal, dan cara manusia menggunakan nikmat yang diterimanya.

Karena itu, jangan hanya meminta wajah yang indah, tetapi mintalah hati yang bersih. Jangan hanya mengejar kekayaan, tetapi mintalah rezeki yang halal dan keberkahan. Jangan hanya menginginkan kehidupan yang mewah, tetapi usahakan kehidupan yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan agama.

Sebab, ujian terbesar bukanlah ketika kita tidak memiliki apa-apa, melainkan ketika kita memiliki banyak hal dan tetap mampu menjaga hati agar tidak sombong, tidak lupa bersyukur, serta tidak merendahkan sesama.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mampu mensyukuri kecantikan, mengelola kekayaan dengan amanah, dan menjalani kehidupan dunia tanpa melupakan akhirat.

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

CATATAN KAKI

  1. Isma’il ibn Umar Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Al-Mulk [67]: 2.
  2. Muhammad ibn Ahmad al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Al-Mulk [67]: 2.
  3. Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab, hadis no. 2564.
  4. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. At-Taghabun [64]: 15.
  5. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. At-Taghabun [64]: 15.
  6. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Ali ‘Imran [3]: 185.
  7. Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Ahadits al-Anbiya’, hadis no. 3464.
  8. Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, tafsir QS. Ibrahim [14]: 7.
  9. Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, tafsir QS. Ibrahim [14]: 7.
  10. Al-Qur’an, QS. Al-Hujurat [49]: 13.
  11. Al-Qur’an, QS. Al-Mulk [67]: 2.
  12. Al-Qur’an, QS. At-Taghabun [64]: 15.
  13. Al-Qur’an, QS. Ali ‘Imran [3]: 185.
  14. Al-Qur’an, QS. Ibrahim [14]: 7.
  15. Al-Qur’an, QS. Al-Hadid [57]: 20.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma’il. Sahih al-Bukhari. Kitab Ahadits al-Anbiya’.

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

Ibn Katsir, Isma’il ibn Umar. Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim.

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim. Kitab al-Birr wa al-Silah wa al-Adab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja
Home
Layanan
Toko
Berita
Login
Scroll to Top