Dialog PENA Episode 38 Bahas Tafsir Simbolik As-Salam, Dorong Penyuluh Perkuat Tradisi Keilmuan

JAKARTA — DPP Pena Da’i Nusantara kembali menghadirkan Dialog PENA, kali ini memasuki episode ke-38 dengan mengangkat tema “Tafsir Ayat-Ayat Simbolik As-Salam: Upaya Membangun Peradaban Islam dari Indonesia”, Selasa (14/7/2026).
Webinar nasional yang diikuti lebih dari 250 Penyuluh Agama Islam dari berbagai daerah tersebut menjadi ruang untuk memperkuat tradisi keilmuan sekaligus mendorong para penyuluh agar mampu merespons berbagai persoalan masyarakat yang terus berkembang.
Dialog PENA selama ini menjadi salah satu forum literasi yang secara rutin digelar DPP Pena Da’i Nusantara. Forum tersebut menjadi wadah bertukar gagasan, memperkuat moderasi beragama, sekaligus mengembangkan budaya literasi dan tradisi keilmuan di kalangan penyuluh agama.
Episode ke-38 menghadirkan Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Muchlis Muhammad Hanafi, Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI, Jamaluddin M. Marki, serta penulis buku Tafsir Ayat-Ayat Simbolik As-Salam, Assoc. Prof. Asmaji Muchtar, sebagai narasumber utama.
Tradisi Ilmiah Perlu Terus Dihidupkan
Muchlis Muhammad Hanafi mengapresiasi konsistensi Pena Da’i Nusantara dalam menyelenggarakan forum ilmiah dengan tema yang dekat dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, penyuluh agama perlu terus memperkuat kapasitas intelektual melalui kegiatan membaca, menulis, berdiskusi, dan mengembangkan gagasan yang dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat.
“Tradisi ilmiah harus terus dihidupkan. Saya mengapresiasi Pena Da’i Nusantara dan penulis yang terus berikhtiar memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sebagai solusi atas berbagai persoalan kontemporer. Para penyuluh juga harus terus belajar, menulis, dan mendiskusikan berbagai pemikiran yang dapat mencerahkan masyarakat,” ujar Muchlis.
Dalam paparannya, Muchlis menjelaskan bahwa tafsir isyari merupakan salah satu ikhtiar untuk memahami pesan yang tersembunyi di balik teks Al-Qur’an. Simbol-simbol seperti cahaya, gunung, maupun kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara literal, tetapi juga dapat digali nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya melalui tafsir, takwil, dan tadabbur.
Namun, ia menekankan bahwa pemaknaan simbolik tetap harus memiliki pijakan metodologis yang kuat.
“Apapun pendekatan yang digunakan, pemaknaan simbolik harus memiliki dasar kebahasaan yang kuat. Di situlah pagar metodologisnya,” tegasnya.
Menurut Muchlis, pendekatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun cara pandang Qurani dalam menghadapi perubahan zaman. Penyuluh agama memiliki posisi strategis untuk menghubungkan pesan-pesan Al-Qur’an dengan berbagai persoalan aktual, mulai dari ekonomi, kesehatan, lingkungan, hingga perkembangan teknologi.
“Alam, sejarah, dan wahyu merupakan fondasi lahirnya peradaban. Cara pandang Qurani dibangun melalui tradisi tafsir, takwil, dan tadabbur sehingga Al-Qur’an tetap aktual menjawab tantangan setiap zaman,” tambahnya.
Dialog PENA Dinilai Semakin Kontekstual
Apresiasi juga disampaikan Jamaluddin M. Marki. Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama tersebut menilai Dialog PENA telah berkembang menjadi forum ilmiah yang konsisten mengangkat isu-isu aktual dan kontekstual.
“Momentum ini sangat tepat. Terus semangat kepada Tim Pena Da’i Nusantara. Pesertanya terus bertambah dan tema-tema yang diangkat selalu kontekstual dan aktual,” katanya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa ruang diskusi bagi para penyuluh agama tidak hanya dibutuhkan untuk memperkaya wawasan keagamaan, tetapi juga untuk membangun kemampuan membaca perubahan sosial dan perkembangan zaman.
Tafsir dan Tantangan Peradaban Modern
Sementara itu, Assoc. Prof. Asmaji Muchtar selaku narasumber utama menguraikan gagasan yang dituangkannya dalam buku Tafsir Ayat-Ayat Simbolik As-Salam. Gagasan tersebut lahir dari kajian terhadap 22 kitab tafsir klasik dan kemudian dikembangkan melalui pendekatan At-Taqribah Al-Tafkir Al-Mutadaffiqah, atau Pendekatan Alur Berpikir Mengalir.
Asmaji menjelaskan, kajian tafsir selama ini banyak berputar pada produk-produk pemikiran klasik. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu terus dikembangkan agar tradisi tafsir dapat melahirkan perspektif dan ilmu baru yang mampu menjawab dinamika peradaban modern.
Pendekatan alur berpikir mengalir menawarkan ruang ijtihad yang lebih luas, terutama dalam memahami ayat-ayat simbolik dan ayat-ayat kauniyah, dengan tetap berpegang pada kaidah metodologi tafsir.
“Aspek yang disampaikan para ulama tidak berhenti begitu saja. Tafsir selalu terbuka untuk terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman,” ujar Asmaji.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara ulama dan ilmuwan dalam memahami ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya ditempatkan sebagai sumber hukum, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemajuan peradaban.
As-Salam dan Gagasan Peradaban Islam
Pemilihan tema As-Salam tidak terlepas dari situasi global yang masih diwarnai konflik dan berbagai persoalan kemanusiaan. Melalui pendekatan tafsir simbolik, peserta diajak melihat nilai-nilai perdamaian dalam Al-Qur’an sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun peradaban Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perspektif tersebut juga dinilai relevan bagi penyuluh agama dalam mengembangkan materi penyuluhan. Agama tidak semestinya dipandang berseberangan dengan kemajuan teknologi maupun agenda pembangunan. Sebaliknya, nilai-nilai agama dapat menjadi sumber inspirasi dalam membangun kehidupan masyarakat.
Penguatan ekonomi umat, peningkatan kualitas kesehatan, pelestarian lingkungan, hingga pemanfaatan teknologi dapat ditempatkan sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Dialog PENA, DPP Pena Da’i Nusantara terus mendorong tumbuhnya budaya diskusi, literasi, dan pengembangan pemikiran Islam di kalangan penyuluh agama. Penguatan wawasan yang kontekstual sekaligus metodologis diharapkan membuat penyuluh semakin siap menghadirkan dakwah yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat Indonesia.
Dialog PENA Episode ke-38 dipandu langsung oleh Ketua Umum DPP Pena Da’i Nusantara, Mukhlis Sanjaya, dengan menghadirkan Heru Susanto, KaSubTIM Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama, sebagai pemantik diskusi.
Kegiatan berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Pena Da’i Nusantara.







