143 Chatbot AI Penyuluh Agama dari 17 Provinsi Resmi Diluncurkan, Perkuat Transformasi Digital Layanan Keagamaan

JAKARTA — Sebanyak 143 chatbot berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dikembangkan para penyuluh agama dari 17 provinsi resmi diluncurkan melalui program “100+ Chatbot AI Penyuluh se-Nusantara”, Selasa (4/8/2026).
Program yang digagas Komunitas Pena Da’i Nusantara (PDN) tersebut menjadi salah satu bentuk inovasi dalam mendorong transformasi digital penyuluhan agama. Kehadiran chatbot diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan layanan keagamaan, terutama di tengah semakin tingginya pemanfaatan teknologi AI untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan kehidupan.
Peluncuran dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada pukul 19.00–21.00 WIB. Kegiatan dipandu Wahyu Qadri, Penyuluh Agama Islam Kota Langsa, Provinsi Aceh, sebagai moderator.
Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir, di antaranya Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi (Pusbangkom) SDM Pendidikan dan Keagamaan, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama RI, Dr. H. Mastuki, M.Ag., Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Kemenag RI, Dr. Jamaludin M. Marki, Ketua DPP Pena Da’i Nusantara Dr. Muklis Sanjaya, serta ratusan penyuluh agama dari berbagai wilayah Indonesia.
AI dan Tantangan Baru Kehidupan Beragama
Dalam pidato kuncinya, Mastuki menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi. Menurutnya, masyarakat saat ini tidak hanya menghadapi culture shock, tetapi juga mulai memasuki fase theology shock.
Perubahan tersebut salah satunya terlihat dari cara masyarakat mencari jawaban atas berbagai persoalan keagamaan. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak mendatangi atau berkonsultasi langsung dengan tokoh agama, kini mesin pencari dan chatbot berbasis AI semakin sering digunakan untuk mendapatkan jawaban secara cepat.
“Ini bukan sekadar gegar budaya, tetapi juga guncangan teologis yang menyentuh aspek-aspek esensial kehidupan beragama,” kata Mastuki.
Ia mencontohkan persoalan keluarga, tekanan pekerjaan, hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) yang tidak jarang turut membutuhkan sudut pandang keagamaan.
Karena itu, menurut Mastuki, Kementerian Agama perlu menghadirkan layanan keagamaan yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan pola kebutuhan masyarakat.
“Kementerian Agama membutuhkan layanan yang terukur dan mampu mengikuti perkembangan zaman ketika masyarakat sudah berbicara tentang AI,” ujarnya.
Meski teknologi AI berkembang pesat, Mastuki menegaskan bahwa keberadaan chatbot bukan untuk menggantikan posisi penyuluh agama. AI, kata dia, seharusnya ditempatkan sebagai instrumen pendukung untuk memperluas jangkauan pelayanan.
“Keteladanan, empati, dan pendampingan terhadap persoalan-persoalan sensitif tetap menjadi tugas penyuluh agama. AI tidak dapat menggantikan peran itu,” katanya.
Berawal dari Pembelajaran Digital
Ketua DPP Pena Da’i Nusantara, Muklis Sanjaya, menjelaskan bahwa lahirnya ratusan chatbot tersebut tidak terjadi secara instan. Inovasi itu berawal dari gerakan para penyuluh agama yang mengikuti pembelajaran melalui Massive Open Online Course (MOOC) dan platform Pintar Kementerian Agama.
Pembelajaran tersebut kemudian dikembangkan melalui berbagai kegiatan bimbingan teknis dan coaching clinic. Para penyuluh mendapatkan pendampingan untuk mengembangkan chatbot yang disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan keagamaan di wilayah masing-masing.
“Dari proses itu lahirlah 143 chatbot AI yang kini tersebar di 17 provinsi,” ujar Muklis.
Dinilai sebagai Terobosan Baru Penyuluhan Agama
Sementara itu, Jamaludin M. Marki menyebut peluncuran 143 Chatbot AI Penyuluh Agama sebagai terobosan baru dalam perkembangan penyuluhan agama di Indonesia.
Menurutnya, inovasi tersebut memiliki potensi besar untuk mendapat perhatian publik karena mempertemukan perkembangan teknologi kecerdasan buatan dengan kebutuhan pelayanan keagamaan.
“Ini sebuah terobosan baru. Saya melihat gerakan ini sangat mungkin ramai di jagad maya, bahkan bisa menjadi trending topic. Lebih dari itu, ini menandai lahirnya sebuah gerakan baru penyuluh agama Indonesia dalam memanfaatkan kecerdasan buatan untuk pelayanan kepada masyarakat,” ujar Jamaludin.
Ia juga menilai bahwa perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi para penyuluh agama. Kemampuan memberikan layanan dan menyampaikan pesan keagamaan tidak lagi cukup hanya mengandalkan mimbar ataupun pertemuan tatap muka.
Penyuluh juga dituntut mampu memahami media sosial serta berbagai teknologi digital yang menjadi ruang baru masyarakat dalam memperoleh informasi.
“Tantangan penyuluh hari ini adalah menguasai jagad media sosial. Di sanalah masyarakat mencari informasi, berdiskusi, bahkan membentuk cara pandang terhadap agama. Penyuluh harus hadir di ruang digital dengan narasi yang mencerahkan, moderat, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana,” katanya.
Live Demo dan Penghargaan Chatbot Terbaik
Untuk memperlihatkan secara langsung kemampuan teknologi yang dikembangkan para penyuluh, panitia menghadirkan sesi live demo. Dalam kesempatan tersebut, Penyuluh Agama Islam Haris Shofiudin mendemonstrasikan chatbot yang mampu merespons berbagai pertanyaan keagamaan secara interaktif dan real time di hadapan peserta.
Tidak hanya meluncurkan chatbot, PDN juga memberikan apresiasi kepada tiga penyuluh yang dinilai menghasilkan inovasi chatbot terbaik.
Juara pertama diraih Muhammad Robbish Thovani, S.H., M.H. dari Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, melalui chatbot “maspenyuluh_”.
Posisi kedua ditempati Habibur Rohmam, S.Pd., Gr., C.PSQ dari Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, dengan chatbot “PTSP PENYIAR HIKMAH”.
Sementara itu, peringkat ketiga diraih Tri Lestari, S.H. dari Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, melalui chatbot “SAPA UMAT”.
Peluncuran 143 chatbot tersebut menjadi penanda bahwa transformasi digital penyuluhan agama mulai bergerak dari sekadar wacana menuju praktik nyata. Teknologi AI tidak ditempatkan sebagai pengganti penyuluh, melainkan sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pelayanan sekaligus menghadirkan penyuluhan agama di ruang digital yang semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.







