
JAKARTA — Moderasi beragama bukan sekadar pilihan bagi masyarakat perkotaan yang hidup dalam keragaman. Ia menjadi kebutuhan untuk menjaga stabilitas sosial ketika mobilitas warga tinggi, informasi bergerak cepat, dan prasangka keagamaan dapat menyebar dalam hitungan detik.
Gagasan itu mengemuka dalam Dialog PENA Batch 42 yang digelar Komunitas Pena Da’i Nusantara, Selasa, 11 Agustus 2026. Mengangkat tema “Merajut Moderasi Beragama di Tengah Harmoni Keberagaman Grogol Petamburan, Kota Jakarta Barat”, forum ini diikuti lebih dari 200 penyuluh agama se-Nusantara melalui Zoom dan disiarkan melalui YouTube Pena Da’i Nusantara.
Penyuluh Agama Islam Jakarta Barat, Ika Dian Humairoh, S.Sy., mengatakan moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan. Sebaliknya, moderasi menuntut cara beragama yang bijaksana, menghargai sesama, dan menjaga persatuan.
“Moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan, tetapi membangun cara beragama yang bijaksana, menghargai sesama, dan menjaga persatuan,” kata Ika.
Menurut Ika, kehidupan perkotaan menghadirkan tantangan tersendiri. Mobilitas masyarakat yang tinggi dapat memunculkan prasangka, polarisasi, hingga hoaks berdimensi keagamaan. Dalam kondisi itu, penyuluh agama dituntut tidak berhenti pada aktivitas ceramah.
Penyuluh harus menjadi pendidik yang menghadirkan pemahaman keagamaan rahmatan lil ‘alamin, jembatan komunikasi antar kelompok, sekaligus agen perdamaian yang mengedepankan toleransi, keadilan, dan keseimbangan.
Peran tersebut diwujudkan melalui pendampingan kelompok masyarakat, dialog lintas iman, serta penguatan literasi digital bagi penyuluh.
Semangatnya sederhana: “Berbeda Agama, Satu Tujuan.” Keberagaman Grogol Petamburan, kata Ika, perlu dirajut menjadi kekuatan sosial yang harmonis.
Penyuluh sebagai Pembawa Pesan Negara
Kepala Seksi Bimas Islam Kankemenag Kota Jakarta Barat, H. Saiful Anam, S.Sos.I., M.Pd.I., melihat perubahan masyarakat menuntut redefinisi peran penyuluh.
“Di era ini penyuluh tidak ujung tombak, tapi menjadi insan pembawa pesan negara,” ujar Saiful.
Jakarta Barat memiliki delapan kecamatan dengan karakter sosial yang beragam. Sebanyak 53 penyuluh agama bertugas di wilayah tersebut dan dipetakan untuk mengambil peran yang lebih strategis serta lintas sektoral.
Menurut Saiful, posisi penyuluh unik karena mereka berasal dari masyarakat dan kembali mengabdi kepada masyarakat. Karena itu, penguasaan teknologi digital menjadi penting, terlebih ketika AI ikut mengubah cara masyarakat memperoleh dan memproduksi informasi.
“Penyuluh agama berasal dari masyarakat, berkhidmat di masyarakat,” katanya.
Ia mendorong penyuluh terus berkarya dan memperluas dampak positif bagi masyarakat Jakarta Barat, termasuk Grogol Petamburan yang dihuni warga dengan latar belakang etnis dan sosial yang beragam.
Penenun Keberagaman
Kasubdit Bina Penyuluh Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, Dr. H. Jamaluddin M. Marki, Lc., M.Si., menyebut Grogol Petamburan sebagai miniatur Indonesia.
Kawasan ini berkembang menjadi ruang urban dengan pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat yang beragam. Namun, keragaman tersebut tetap memungkinkan warga membangun hubungan sosial melalui budaya saling menyapa dan menolong.
“Ini miniatur Indonesia kecil. Luar biasa saling sapa dan tolong-menolong,” ujar Jamaluddin.
Dalam masyarakat seperti itu, kata dia, penyuluh adalah penenun keberagaman. Mereka harus menjadi teladan, mediator konflik, sekaligus sumber inspirasi dan semangat kehidupan beragama.
Jamaluddin menyebut empat fungsi penyuluh: Mursyid sebagai pembimbing, Mufti sebagai pemberi pandangan keagamaan, Mubaligh sebagai penyampai pesan agama, dan Muharrik sebagai penggerak masyarakat.
Karena itu, tugas penyuluh melampaui aktivitas dakwah. Mereka memiliki tanggung jawab untuk mengedukasi sekaligus mengadvokasi masyarakat.
Keterlibatan itu semakin lintas sektor. Jamaluddin mencontohkan penyuluh yang ikut mengedukasi masyarakat mengenai BPJS sebagai kebutuhan sosial dan bagian dari semangat ta’awun. Sejumlah penyuluh juga dilibatkan dalam pendampingan mantan teroris dari Suriah serta berbagai program pemerintah lainnya.
Fenomena sosial di ruang publik pun, menurut Jamaluddin, perlu dibaca oleh penyuluh. Kehadiran hiburan, musik dan konsumsi minuman keras, misalnya, membutuhkan pendekatan yang mampu memahami situasi, bukan sekadar memberikan penilaian dari kejauhan.
“Belajar membaca situasi,” katanya.
Kompetensi Menjadi Taruhan
Perluasan peran tersebut membawa konsekuensi: penyuluh harus meningkatkan kompetensi, termasuk kemampuan memahami teknologi dan ruang digital.
“Banyak penyuluh kita dilibatkan dalam berbagai hal. Kompetensi itu penting. Di sinilah kita dibutuhkan pemerintah,” ujar Jamaluddin.
Menurut dia, Dialog PENA menjadi salah satu pemantik agar penyuluh berani menunjukkan kiprahnya kepada publik. Penyuluh perlu hadir bukan hanya sebagai penyampai pesan agama, tetapi sebagai bagian dari solusi atas persoalan masyarakat.
Forum yang dipandu Dr. Danu Aris Setiyanto, S.Sy., M.H., Penyuluh Agama Islam Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu juga menghadirkan H. Heru Susanto, Kasubtim Evaluasi Kinerja Penyuluh Agama Islam, sebagai pemantik.
Lebih dari 200 penyuluh mengikuti dialog tersebut dari berbagai daerah. Dari Grogol Petamburan, pesan yang dibawa forum ini melampaui isu keberagaman: penyuluh agama harus mampu membaca zaman, memahami masyarakat, menguasai teknologi, dan hadir sebagai bagian dari solusi.
Sebab ketika algoritma semakin menentukan apa yang dibaca, dilihat, dan dipercaya masyarakat, mimbar penyuluhan tak lagi berbentuk satu ruang. Ia telah berpindah ke komunitas, jalan, media sosial, dan ruang digital. (dion)


